Sanghyang Janger Maborbor: Ketika Api Menjadi Jalan Menuju Niskala
Pertunjukan Tari Sanghyang Janger Maborbor/Foto: Dok: Pradipta, 2026
Di tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih hidup sebuah tradisi ritual yang menyatukan seni pertunjukan, adat, dan kepercayaan spiritual. Tradisi itu adalah Sanghyang Janger Maborbor, sebuah pertunjukan sakral yang diwariskan turun-temurun dan hingga kini tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Sanghyang Janger Maborbor bukan sekadar pertunjukan tari. Di dalamnya terdapat hubungan yang erat antara kehidupan sekala dan niskala. Gerak, suara, musik, busana, ruang pertunjukan, hingga api yang menjadi bagian dari puncak ritual, semuanya memiliki kedudukan dan makna tersendiri.
Pertunjukan ini melibatkan 24 penari, terdiri atas 12 penari perempuan sebagai janger dan 12 penari laki-laki sebagai kecak. Mereka diiringi gamelan Gong Kebyar yang dimainkan oleh 25 penabuh. Sanghyang Janger Maborbor biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara piodalan di pura-pura yang ada di Desa Metra, terutama pada rerahinan Buda Cemeng Warigadean di Pura Puseh Ulun Suwi.
Berawal dari Sebuah Pawisik
Keberadaan Janger Maborbor di Desa Metra tidak dapat dilepaskan dari kisah yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan orang tua I Wayan Menek, pemangku di Banjar Dinas Suka Jiwa, Desa Metra.
Pada masa lalu, orang tua I Wayan Menek mengalami sakit keras yang tidak kunjung sembuh. Dalam kondisi tersebut, mereka mendapatkan pawisik atau petunjuk spiritual untuk mementaskan Tari Janger Maborbor. Setelah pertunjukan dilaksanakan, penyakit tersebut dipercaya berangsur sembuh.
I Wayan Menek (59), dalam wawancara pada 7 April 2026, menuturkan:
“Reraman titiange dumun naenin sakit keras. Seantukan wenten pawisik ngamedalang Tari Janger Meborbor, reraman titiang seger uger. Jantos mangkin raris kramane deriki tetep nyolahang Tari Jangere puniki.”
“Dahulu orang tua saya pernah menderita sakit keras. Kemudian mendapat pawisik atau petunjuk spiritual untuk mementaskan Tari Janger Maborbor. Setelah tari tersebut dipentaskan, orang tua saya pun sembuh. Hingga saat ini, masyarakat di sini tetap melestarikan Tari Janger tersebut.”
Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Desa Metra memandang Sanghyang Janger Maborbor sebagai bagian dari hubungan manusia dengan kekuatan niskala. Pertunjukan ini dipercaya memiliki fungsi sebagai sarana penolak bala sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan kehidupan.
Karena itu, Sanghyang Janger Maborbor tidak cukup dipahami hanya sebagai tontonan. Ia merupakan sebuah peristiwa ritual yang memiliki aturan, tahapan, simbol, dan konsekuensi spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Lima Tahapan Menuju Puncak Ritual
Sanghyang Janger Maborbor memiliki lima tahapan utama, yakni Nedunang, Pepeson, Pejangeran, Maborbor, dan Ngaluhur. Kelima tahapan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Bagi masyarakat Desa Metra, urutan tersebut merupakan pakem yang bersifat sakral. Perubahan terhadap struktur ritual bukan sekadar persoalan teknis pertunjukan, tetapi dapat berkaitan dengan keyakinan dan tata kehidupan spiritual masyarakat.
Ritual diawali dengan Nedunang, yaitu prosesi menurunkan tapakan Ida Betara Barong Singa Mara, sebagai kelanturan Ida Betara mesolah napak pertiwi.
Tahap berikutnya adalah Pepeson. Pada bagian ini, penari kecak dan janger mulai menampilkan gerak tari di dalam langse sebelum memasuki kalangan pertunjukan.
Pertunjukan kemudian berlanjut ke tahap Pejangeran. Para penari menampilkan gerak tari yang diiringi gending-gending janger dan pantun yang dinyanyikan secara berbalas-balasan. Pada tahap ini, suasana pertunjukan masih tampak sebagai sebuah ekspresi seni yang akrab dengan bentuk-bentuk kesenian janger.
Namun, suasana tersebut perlahan berubah ketika unsur ritual mulai menguat.
Dari Sekala Menuju Niskala
Salah satu kekuatan Sanghyang Janger Maborbor terletak pada hubungan antara unsur estetis dan simbolis. Gerak, vokal, iringan, busana, properti, dan ruang pertunjukan tidak berdiri sendiri. Semuanya menjadi bagian dari sistem yang membawa pertunjukan dari wilayah sekala menuju pengalaman niskala.
Perubahan suasana tersebut salah satunya ditandai dengan lantunan gegendingan janger yang dipercaya menjadi media komunikasi dalam prosesi pemanggilan roh leluhur.
Widyadara mangkin pacang temurun
Sanghyang dari saking kedewatan
Sane mangkin melingga ring janger
Janger suci saking suka jiwa
Sane mangkin pacang mesolah
Jangi janger aras sijang jangi janger
Jangi janger aras sijang jangi janger
Jangi janger aras sijang jangi janger
Jangi janger seriang ento rora roti
Setelah gending tersebut dilantunkan, suasana pertunjukan mengalami perubahan. Sejumlah penari, pemangku, maupun masyarakat dapat mengalami trance atau kerauhan. Dalam keyakinan masyarakat setempat, keadaan tersebut menjadi bagian dari hadirnya kekuatan niskala dalam prosesi ritual.
Di sinilah batas antara pertunjukan sebagai seni dan pertunjukan sebagai ritual menjadi semakin tipis. Gerak tidak lagi sekadar gerak estetis, suara tidak sekadar bunyi pengiring, dan ruang pertunjukan tidak lagi hanya menjadi tempat pementasan. Semuanya menjadi bagian dari sebuah pengalaman spiritual bersama.
Ketika Api Menjadi Bagian dari Ritual
Puncak Sanghyang Janger Maborbor berlangsung pada tahap Maborbor. Pada tahapan inilah unsur api menjadi pusat perhatian.
Beberapa penari yang mengalami kerauhan berinteraksi langsung dengan bara api. Mereka dapat menginjak, menendang, bahkan memasukkan serabut kelapa yang telah terbakar ke dalam mulut.
Bagi orang yang menyaksikannya dari luar, adegan tersebut tentu tampak ekstrem. Namun bagi masyarakat Desa Metra, maborbor bukanlah sekadar atraksi keberanian. Peristiwa tersebut dipahami sebagai bagian dari pengalaman ritual ketika penari berada dalam kondisi berbeda dari kesadaran sehari-hari.
Ni Luh Cipta Tasya Listyani (17), salah seorang penari Janger, menjelaskan bahwa pengalaman ketika berada dalam kondisi kerauhan berbeda dengan keadaan normal. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, kondisi tersebut berkaitan dengan hadirnya kekuatan niskala selama ritual berlangsung.
Api yang digunakan dalam ritual berasal dari tumpukan serabut kelapa kering yang ditempatkan di tengah kalangan. Api kemudian dinyalakan menggunakan 11 batang dupa sebagai simbol Gni, lalu disiram bahan bakar agar pembakaran berlangsung cepat dan maksimal.
Secara simbolik, api dimaknai sebagai kekuatan pelebur segala bentuk lara, loba, dan gering—segala sesuatu yang dipandang negatif dalam kehidupan.
Dengan demikian, api bukan sekadar elemen visual yang menghadirkan ketegangan dalam pertunjukan. Ia menjadi simbol penting dalam keseluruhan struktur ritual. Bara yang menyala menjadi gambaran tentang proses peleburan dan pembersihan, sekaligus menjadi medium pengalaman spiritual bagi para pelaku ritual.
Mengembalikan Kesadaran
Setelah puncak maborbor terlewati, pertunjukan memasuki tahap terakhir, yakni Ngaluhur.
Pada tahap ini, para penari yang mengalami kerauhan disadarkan kembali melalui prosesi pemberian air suci atau tirtha oleh pemangku. Tahapan tersebut menjadi penutup sekaligus proses mengembalikan para pelaku dari pengalaman ritual menuju kesadaran seperti semula.
Ngaluhur menjadi semacam jembatan terakhir antara dunia ritual dan kehidupan sehari-hari. Setelah melewati pengalaman spiritual yang intens, para penari kembali kepada dirinya, sementara rangkaian pertunjukan pun berakhir.

Lebih dari Sekadar Atraksi Api
Sanghyang Janger Maborbor pada akhirnya bukan sekadar pertunjukan yang memperlihatkan keberanian manusia berhadapan dengan bara api. Di balik kobaran api dan fenomena kerauhan terdapat sistem budaya yang mengatur hampir seluruh aspek pertunjukan: urutan ritual, peran pelaku, penggunaan ruang, bunyi, gerak, busana, hingga berbagai perlengkapan yang digunakan.
Dalam perspektif etnoestetika, keindahan Sanghyang Janger Maborbor tidak semata-mata terletak pada bentuk gerak, tata rias, busana, gegendingan, maupun iringan musiknya. Keindahan itu juga hadir melalui keselarasan antara pertunjukan dengan nilai adat, ketepatan struktur ritual, serta pengalaman spiritual yang dirasakan secara kolektif oleh masyarakat.
Bagi masyarakat Desa Metra, Sanghyang Janger Maborbor merupakan bagian dari identitas budaya yang mengandung nilai sosial, spiritual, dan simbolik. Tradisi ini bukan hanya warisan dari masa lalu, tetapi juga bagian dari cara masyarakat memahami hubungan antara manusia, alam, adat, dan kekuatan niskala.
Karena itu, pelestariannya tidak cukup hanya dengan menjaga agar pertunjukan tetap dipentaskan. Yang tidak kalah penting adalah menjaga pengetahuan yang menyertainya: memahami tahapan, fungsi, aturan, simbol, serta alasan mengapa setiap unsur ditempatkan dalam struktur ritual tertentu.
Pendokumentasian dan penelitian menjadi salah satu jalan untuk menjaga pengetahuan tersebut agar tidak terputus. Generasi muda tidak hanya perlu mengenal Sanghyang Janger Maborbor sebagai pertunjukan maborbor atau permainan api, tetapi juga memahami bahwa di balik bara tersebut terdapat sistem pengetahuan dan keyakinan yang telah diwariskan masyarakat Desa Metra.
Pada akhirnya, api dalam Sanghyang Janger Maborbor bukan hanya sesuatu yang menyala dan membakar. Ia menjadi simbol perjalanan—dari lara menuju penyucian, dari sekala menuju niskala, lalu kembali lagi kepada kesadaran manusia. Di situlah kekuatan tradisi ini tetap hidup: bukan semata karena bentuk pertunjukannya, tetapi karena makna yang terus dipercayai, dijalankan, dan diwariskan oleh masyarakat pendukungnya. [I Putu Gede Pradipta Utama, Mahasiswa ISI Bali]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali